Hidup adalah perjalanan untuk belajar, berkembang, dan beramal

Melihat Bandung dari Puncak Menara Masjid Raya

Tidak ada komentar

Melihat Bandung dari Puncak Menara Masjid Raya 



Ngabuburit di Masjid Agung Bandung
Masjid Agung Bandung




Mau melihat Kota Bandung dari udara? Datanglah ke menara kembar Masjid Raya Bandung. Lokasi Masjid diantara Jl. Asia-Afrika dan Jl. Dalem kaum Bandung atau lebih dikenal Alun-alun Bandung. Cukup membayar tiket Rp. 3000 kita akan dibawa ke puncak menara setiggi 99 meter. Melalui sebuah lift yang terletak dalam menara pengunjung dapat melihat pemandangan Kota Bandung sekitar Masjid. Pada hari biasa menara hanya dibuka Sabtu dan Ahad. Selama Bulan Ramadhan menara dibuka tiap hari. Menara yang dibangun tahun 2002 menjadi tempat ngabuburit warga. Jika selama ini Alun-alun Bandung sebagai tempat favorit ngabuburit maka keberadaan menara menambah sarana ngabuburit sekaligus destinasi wisata ruhani

Masjid raya ini mempunyai sejarah panjang seiring dengan perkembangan Kota Bandung. Masjid Raya Bandung Jawa Barat sebelumnya dikenal dengan nama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812

Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalami perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami prubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika


Artikel Lainnya:
Perjalanan Sejarah di Masjid Cipaganti 

Tidak ada komentar :